Salam Redaksi – Aksi Mogok Kenapa Murid Dijadikan Tameng

Senin, 13 Maret 2017 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SALAM REDAKSI – Pembaca yang budiman, kita semua tahu betapa lukanya hati para guru di Kuansing ini ketika tunjangan profesi mereka mengalami tunda bayar selama 4 bulan.

Atas dasar itu pula, para guru di Kuansing menggelar aksi unjuk rasa pada 111. Lewat aksi itu, para guru menuntut hak mereka untuk segera dibayarkan. Aksi itu diikuti ribuan guru di Kuansing.

Kini apa yang diinginkan para guru sudah diakomodir Pemkab Kuansing. Buktinya dalam KUA-PPAS sudah dialokasikan dana untuk tunjangan profesi guru yang belum terbayarkan.

Namun demikian, kalau disimak status dan komen sejumlah guru di media sosial, sepertinya aksi guru akan digelar lagi dalam bentuk mogok mengajar. Aksi itu akan dilaksanakan tiga hari mulai Rabu 15 maret mendatang.

Menurut hemat kami, kalau saja aksi mogok mengajar itu jadi dilaksanakan, permasalahannya akan jadi lain dari aksi yang pernah digelar para guru pada 11 januari lalu.

Kalau aksi 11 januari lalu guru tampil untuk menuntut hak mereka. Aksi itu pun bisa disebut berhasil. Hak para guru yang belum terbayarkan itu sudah diakomodir dalam KUA-PPAS.

Lantas aksi mogok mengajar yang direncanakan Rabu 15 Maret ini untuk apa ??. Untuk memaksa Pemkab melunasi pembayaran pada hari itu juga ??. Ini tentu sangat tidak mungkin karena APBD saja belum disahkan. Lantas untuk apa ???

Karena itu para guru perlu menimbang kembali rencana aksi 153 ini. Apalagi aksi yang akan digelar itu dalam bentuk mogok mengajar. Kenapa murid atau siswa yang harus dikorbankan. Apa salahnya murid atau siswa dalam masalah ini.

Kita sangat berharap para guru yang sudah diberi sertifikat professional itu bijak dalam masalah ini. Guru professional sudah seharusnya memiliki nurani yang sangat mencintai murid atau siswanya. Sehingga apa pun masalah yang dihadapi guru, dipastikan guru tidak akan tega mengorbankan murid atau siswanya.

Entahlah kalau perjuangan guru ini sudah diboncengi oleh kepentingan-kepentingan lain sehingga guru sampai hati menjadikan murid atau siswanya sebagai tameng. Kalau ini sampai terjadi Astagfirullahalazim. ***

Berita Terkait

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta
Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan
APBD-P Kuansing 2025 Tanpa Alokasi TPP. Ini Sangat Keliru
Entitas Pemerintah Tidak Boleh Terjebak dalam Pembiaran Pelanggaran Hukum
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:28 WIB

Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:35 WIB

Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta

Rabu, 8 Oktober 2025 - 15:18 WIB

Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan

Berita Terbaru

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

EDITORIAL

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Rabu, 11 Mar 2026 - 00:53 WIB

Deforestasi (Foto Antara)

EDITORIAL

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Senin, 9 Mar 2026 - 20:41 WIB