TELUKKUANTAN (KuansingKita) – Relokasi warga yang bermukim di Kawasan Taman Nasional Teso Nilo di Kabupaten Pelalawan dan Inhu, Provinsi Riau sudah dimulai sejak Desember 2025 lalu. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penataan kawasan dan pemulihan ekosistem hutan konservasi dan Taman Nasional Teso Nilo.
Seperti diketahui, warga direlokasi karena semakin menyempitnya kawasan hutan alam di Taman Nasional Teso Nilo. Dari luas 80 ribu hektar lebih kini hutan alam yang tersisa sekitar 12 ribu hektar. Dalam kawasan yang sempit inilah kawanan gajah Sumatera (elephas maximus Sumatranus) dipaksa bertahan hidup.
Akibatnya, berdasarkan data yang dirangkum KuansingKita, populasi gajah Sumatera di Kawasan Taman Nasional Teso Nilo kini tersisa 150 ekor. Populasi ini sangat jauh menurun dibanding data sensus 2004 sekitar 200 ekor. Kondisi ini terjadi akibat perambahan hutan masiv menjadi perkebunan sawit ilegal dan pemukiman
KuansingKita pernah turun ke Taman Nasional Teso Nilo tahun 2021 lalu. Taman Nasional Tesso Nilo adalah kawasan hutan hujan dataran rendah yang merupakan sub DAS aliran sungai Teso dan Nilo. Kawasan ini memiliki topografi relatif datar dan sedikit bergelombang dengan kemiringan 9 – 15 derajat.
Namun seperti dipaparkan Kepala Balai Taman Nasional Teso Nilo kala itu, Heru Sutmantoro, kendati kawasan Teso Nilo memiliki topografi relatif datar bukan berarti kawanan gajah betah di kawasan ini. Kawanan gajah sering keluar dari kawasan Taman Nasional Teso Nilo lalu masuk ke perkebunan warga.

Ini menurut Heru tidak lain disebabkan ruang yang tersisa sangat sempit untuk ukuran jalur jelajah gajah yang luas. Hutan primer yang tersisa 12 ribu hektar tidak cukup untuk 150 ekor populasi gajah. Kawanan gajah akhirnya berkeliaran di perkebunan warga bahkan sampai memasuki pemukiman warga
Sebenarnya, papar Heru Sutmantoro, kawasan TNTN memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah pamah (dipterocarpa) dengan ketinggian 50 – 175 mdpl. Kawasan ini sangat layak menjadi habitat gajah. Namun maraknya perambahan hutan secara masiv membuat habitat gajah semakin menyusut
Kondisi ini semakin diperburuk, ketika salah satu korporasi dalam kawasan TNTN mengganti tanamannya dengan eucalyptus, kawanan gajah semakin tersiksa. Kawanan gajah ini tak tahan dengan aroma pohon eucalyptus, akhirnya hewan bongsor ini berkeliaran masuk ke perkebunan warga di Inhu dan Kuantan Singingi
Beberapa bulan sebelum KuansingKita turun ke Taman Nasional Teso Nilo, kawanan gajah TNTN berkeliaran di perkebunan warga Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi. Warga melakukan penghalauan, namun malang hewan bertubuh gempal ini melawan dan menghempaskan warga ke tanah dengan belalainya
Kala itu, menurut Mahot atau Pelatih gajah Teso Nilo, Erwin Daulay, Tim Elephant Flying Squad TNTN turun ke Inuman membantu warga melakukan penghalauan kemudian melakukan penggiringan menggunakan gajah jinak. TNTN memang memiliki squad pengaman bila gajah masuk ke perkebunan atau pemukiman warga

Tim Elephant Flying Squad TNTN menurut Erwin Daulay memiliki 9 ekor gajah jinak yang sudah terlatih bahkan diberi nama seperti manusia Lisa, Rahman, Indro dan nama lainnya . Gajah jinak ini biasanya diturunkan ketika tim melakukan penggiringan gajah liar agar kembali ke areal konservasi
Kini pemerintah sudah berinsiatif untuk mengembalikan kawasan Teso Nilo sebagai kawasan pelestarian alam untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem asli dan spesies langkah dari ancaman kepunahan. Selain konservasi Taman Nasional Teso Nilo juga berfungsi sebagai pusat penelitian.
Penelitian LIPI (2003) menunjukkan bahwa di kawasan Teso Nilo terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia. Teso Nilo sebagai salah satu sisa hutan dataran rendah tentu saja menjadi habitat gajah sumatera dan harimau sumatera.
Apalagi gajah dan Teso Nilo memang sulit dipisahkan. Pasalnya kawasan TNTN merupakan daerah tangkapan air DAS Sungai Teso, Sungai Nilo, Sungai Segati dan Sungai Sengkalo, sehingga gajah sudah tentu akan merasa nyaman di kawasan dengan air berlimpah ini.
Karena itu pula kawasan Teso Nilo yang ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan SK Penetapan Menhut Nomor 6588/Menhut-VII/KUH/2014, kini telah ditetapkan pula sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera. Langkah ini untuk menekan konflik gajah – manusia di kawasan ini
“ Gajah harus diberi ruang jelajah yang luas untuk menekan konflik gajah-manusia hingga ke titik nol,” kata Kepala Balai TNTN kala itu, Heru Sutmantoro beberapa tahun lalu (smh)











