Gajah Dibunuh di Konsesi PT RAPP Bukti Lemahnya BKSDA Riau Membangun Koeksistensi

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemeriksaan gajah yang mati dibunuh di konsesi PT RAPP (Foto Dok BKSDA Riau)

Pemeriksaan gajah yang mati dibunuh di konsesi PT RAPP (Foto Dok BKSDA Riau)

TELUKKUANTAN (KuansingKita) – Pihak kepolisian terus berupaya mengungkap kasus kematian seekor gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) di areal PT RAPP Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Sampai kini, sebanyak 33 orang saksi telah diminta keterangannya.

Mengutip berbagai sumber, gajah ini mati dibunuh. Dokter hewan BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, gajah tersebut ditembak pada bagian dahi.

Ia mengatakan proyektil peluru ditemukan masih bersarang di tengkorak dan posisi tengkorak masih menyatu dengan leher. Beberapa bagian depan kepala gajah termasuk gading hilang karena dipotong menggunakan senjata tajam

Tak bisa disangkal. Ini merupakan bukti bahwa BKSDA Riau gagal dalam membangun koeksistensi manusia dan satwa seperti gajah. Akibatnya gajah dibunuh untuk komoditas  begitu juga sebaliknya gajah sering merusak perkebunan warga

Koeksistensi manusia–satwa (human–wildlife coexistence) adalah kondisi ketika manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam satu lanskap. Manusia dan satwa hidup tanpa saling mengancam keberlangsungan hidup satu sama lain.

Konsep koeksistensi ini menekankan salah satunya pada penggunaan ruang yang berbagi antara manusia dan satwa. Sementara ruang jelajah gajah di Taman Nasional Teso Nilo semakin menyempit karena deforestasi dalam bentuk penebangan liar

Gajah yang mati di areal konsesi PT RAPP adalah gajah dari Taman Nasional Teso Nilo. Kawasan Teso Nilo seluas 83 ribu hektar lebih itu kini akibat penebangan liar tutupan hutan yang bersisa hanya 12 ribu hektar saja. Di ruang sempit inilah gajah dipaksa bertahan hidup

Tentu saja, gajah yang biasa hidup dalam ruang jelajah yang luas akhirnya berkeliaran di perkebunan warga atau juga konsesi korporasi seperti konsesi PT RAPP. Akibatnya hewan yang kehilangan habitat ini dimusuhi lalu diserang dan dibunuh

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea. Gajah merupakan herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan yang dapat menghabiskan 16 jam per hari untuk mengumpulkan daun, umbi, akar dan bambu untuk makanannya.

Kini, sangat dikhawatirkan spesies ini akan punah karena kehilangan habitat. Namun ancaman yang paling serius dari keberlangsungan hidup gajah atau menurunnya populasi gajah adalah perburuan untuk mendapatkan gading gajah

Gading gajah banyak diperjualbelikan secara illegal akibat tingginya permintaan produk gading di pasar gelap internasional. Gajah menjadi sasaran para pemburu untuk diambil gadingnya dan dijual. Inilah yang menyebabkan populasi gajah terus menurun dan terancam punah.

Semua ini terjadi karena gagalnya BKSDA dalam membangun koeksistensi manusia – satwa. BKSDA terkesan membiarkan manusia mendominasi atau mengeksploitasi satwa, merusak dan menghilangkan habitatnya.  tanpa melakukan tindakan tegas, cepat dan terarah

Kenapa koeksistensi manusia – satwa itu menjadi penting salah satunya untuk mencegah konflik manusia dan satwa. Koeksistensi menekan tindakan destruktif serendah mungkin seperti gajah tidak lagi merusak ladang warga dan manusia tidak membunuh gajah

Ini dilakukan untuk melindungi keanekargaman hayati. Sebab jika bumi ini kehilangan satu spesies saja baik flora maupun fauna maka akan memicu ketidakseimbangan ekosistem. Apalagi stabilitas hidrologi sangat dipengaruhi ekosistem dari satwa yang ada di dalamnya

Kondisi ini sangat miris ketika mencermati rencana strategis BKSDA Riau. Melalui web resmi BKSDA Riau disebutkan, salah satu rencana strategis BKSDA Riau adalah melestarikan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta keberadaan SDA sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan

Namun kenyataannya semua itu hanya dalam rumusan saja. Habitat gajah dirusak dibiarkan, ruang jelajah gajah menyempit karena penebangan liar dibiarkan. Mungkin juga kematian gajah ini mulanya akan dibiarkan tapi syukur polisi sudah bekerja keras untuk mengungkap kasus ini (smh)

Berita Terkait

Riau Dinilai Masih Abai dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Riau Berpeluang Tingkatkan Ekonomi Daerah Lewat Kerja Sama dengan Singapura
Gajah Teso Nilo dan Maraknya Perambahan Hutan Masiv
Dr Elviriadi dan Rocky Gerung Didaulat sebagai Narasumber dalam Seminar Nasional di Grand Elite Hotel Pekanbaru Sabtu Nanti
Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar Lantik Pengurus PWI Rohul 2024–2027. Perkuat Narasi Pembangunan Daerah
Jalan di Pekanbaru dan Dumai Kembali Mulus, Warga dan Walikota Berterima Kasih pada Pj Gubrei
Pria di Bengkalis yang Kalungkan Bendera Merah Putih di Leher Anjing Ternyata Asal Penjaringan Jakarta
Wartawan Riau dari Ampel ke Gunung Jati
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 18:00 WIB

Riau Dinilai Masih Abai dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:05 WIB

Riau Berpeluang Tingkatkan Ekonomi Daerah Lewat Kerja Sama dengan Singapura

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:59 WIB

Gajah Dibunuh di Konsesi PT RAPP Bukti Lemahnya BKSDA Riau Membangun Koeksistensi

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:58 WIB

Gajah Teso Nilo dan Maraknya Perambahan Hutan Masiv

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:19 WIB

Dr Elviriadi dan Rocky Gerung Didaulat sebagai Narasumber dalam Seminar Nasional di Grand Elite Hotel Pekanbaru Sabtu Nanti

Berita Terbaru

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

EDITORIAL

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Rabu, 11 Mar 2026 - 00:53 WIB

Deforestasi (Foto Antara)

EDITORIAL

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Senin, 9 Mar 2026 - 20:41 WIB