Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

“ Di tengah badai disrupsi digital, pers mengalami perubahan pola yang sangat drastis. Kini pers tidak mutlak menjadi kepercayaan publik, kecuali pers yang menyajikan jurnalisme berkualitas”

Banyak sekali pertanyaan muncul seputar peran pers di tengah arus disrupsi digital. Misalnya, apakah jurnalisme masih relevan di tengah gempuran media sosial yang membuat informasi mudah didapat dan banyaknya konten sintesis dari kecerdasan buatan AI

Tambah lagi, disrupsi digital telah diakui merupakan keniscayaan dalam sejarah peradaban manusia modern. Artinya disrupsi digital tetap akan mengusik kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalistik dan keberlanjutan ekonomi media

Nah, dari banyak catatan yang dirangkum KuansingKita, sebenarnya, di tengah tantangan disrupsi digital pers tetap memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi. Karena itu pemerintah harus memandang pers sebagai mitra penting pilar demokrasi

Untuk itu, pers harus diberi perlindungan agar pers selalu mampu menjaga arus informasi yang sehat, akurat dan bertanggung jawab. Sebab informasi yang jernih tetap menjadi pondasi dalam menjaga kohesi sosial bangsa

Sampai saat ini, terbukti, publik masih sangat membutuhkan media arus utama yang mampu menyajikan informasi yang jernih dan dapat dipercaya. Artinya media arus utama tetap menjadi rujukan publik

Media arus utama menjadi rujukan publik karena memiliki tanggung jawab etik, verifikasi, dan nilai kemanusiaan yang tidak dapat digantikan mesin dan algoritma

Dari semua ini, pemerintah sudah seharusnya pula bersikap lentur dengan menempatkan kritikan pers secara proporsional. Kritikan pers tidak perlu diterjemahkan dengan narasi yang membangun permusuhan atau menempatkannya dalam ruang yang berseberangan

Pemerintah harus faham bahwa kritik yang berangkat dari fakta dan etika jurnalistik adalah bagian dari mekanisme evaluasi kebijakan publik. Sebab kritikan pers selalu menjelaskan fenomena sosial yang timbul dalam implementasi kebijakan publik

Sementara, di sisi lain, pers harus pula teguh dalam bersikap bahwa transformasi digital harus tetap berorientasi pada kepentingan publik sekalipun didera pesatnya perkembangan kecerdasan buatan AI

Memang, AI akan selalu menghadirkan tantangan serius bagi etika jurnalistik. Namun demikian AI juga bisa dimanfaatkan sebagai alat efisiensi kerja yang bisa sangat mendukung kerja wartawan

Karena itu, tantangan disrupsi digital harus menjadi momentum revitalisasi pers dalam menghadapi tantangan teknologi. Revitalisasi pers dalam memperkuat ekosistem jurnalisme berkualitas

Jurnalisme itu penting dan memang harus ada manusia yang melakukannya. Sebab jurnalisme punya satu disiplin verifikasi atau ketaatan disiplin verifikasi mendalam dan otentik tanpa bisa dilakukan algoritma

Ini pula alasannya, pers tidak boleh menurunkan kualitas konten atau produk jurnalistiknya. Pers tidak boleh latah seperti membuat judul clickbait misalnya. Produk jurnalistik harus dijaga kualitasnya karena itu inti dari jurnalisme

Artinya pers tidak boleh mengorbankan kepercayaan publik demi kecepatan, algoritma, atau efisiensi teknologi di tengah derasnya arus konten digital, meningkatnya disinformasi, serta kecerdasan artifisial

Di tengah kompleksitas tantangan baru, peran pers dinilai semakin krusial sebagai penjaga integritas informasi dan ruang publik yang sehat. Kehadiran pers yang kredibel dan independen bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan dasar publik pembaca

Dari sini bisa difahami bahwa kualitas jurnalistik tidak semata ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjaga integritas dan kepercayaan publik di tengah disrupsi digital yang semakin masif.

Selama ini, pers itu cermin yang memantulkan apa yang terjadi di pemerintah dan masyarakat. Tetapi di era digital, pola ini berubah drastis. Kini kepercayaan publik tidak sepenuhnya ditumpukan pada pers, kecuali kepada pers yang menyajikan jurnalisme berkualitas

Lantas seperti apa jurnalisme yang berkualitas. Inilah yang perlu difahami. Jurnalisme berkualitas adalah jurnalisme yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, menghasilkan berita akurat, berimbang, independen, dan tidak beritikad buruk.

Jurnalisme berkualitas bertindak sebagai pengawas kekuasaan, mencerdaskan masyarakat, serta mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan politik dan kepentingan ekonomi media. Jurnalisme berkualitas akan selalu melakukan verifikasi ketat untuk menghindari berita hoaks*****

Berita Terkait

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum
Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan
Menyimak Fenomena Mudik Lebaran
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta
Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:07 WIB

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum

Senin, 30 Maret 2026 - 11:41 WIB

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:28 WIB

Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto Visi.news)

EDITORIAL

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Senin, 30 Mar 2026 - 11:41 WIB

SENI DAN BUDAYA

Mengapresiasi karya Puisi

Jumat, 27 Mar 2026 - 14:19 WIB