“Pemerintah setiap tahun selalu membuat persiapan khusus menangani mudik lebaran. Apa itu mudik lebaran dalam fenomena sosial-budaya”
Mudik lebaran bukan sekedar perpindahan fisik manusia dari kota ke desa atau dari perantauan ke kampung halaman. Mudik lebaran adalah fenomena sosial – budaya yang kompleks dengan makna yang sangat luas dan beragam
Jika dicermati lebih dalam, tradisi mudik lebaran ini menggabungkan aspek spritiual, nilai kekeluargaan dan kekerabatan, mobilitas, dinamika ekonomi, sehingga tradisi tahunan ini tanpa disadari ikut mempertegas indentitas masyarakat Indonesia
Dalam konstruksi makna sosial budaya, mudik lebaran menegaskan keterikatan individu dengan akar budayanya dan memperkuat tali stilaturahmi. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap keluarga dan asal-usul, dalam artian kembali ke fitrah
Mudik lebaran juga bagian dari ritual sosial masyarakat muslim. Itulah sebabnya mudik lebaran menjadi ritus tahunan yang dilakukan jutaan umat muslim sehingga mudik lebaran menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan
Namun demikian mudik lebaran sering juga dijadikan panggung status sosial, mudik dijadikan ajang unjuk keberhasilan di perantauan. Prilaku membawa buah tangan yang wah dan berlebih serta membawa kendaraan baru merupakan pamer status sosial

Hal ini memang dapat memotivasi generasi muda di kampung halaman agar kelak bisa lebih sukses lagi. Namun ini sering juga membawa dampak psikologis ataupun tekanan sosial bagi keluarga pemudik lainnya yang belum berhasil
Kendati begitu, mudik lebaran tetap membawa dampak positif terhadap ekonomi seperti memicu perputaran uang dari kota ke desa. Dalam kajian sederhana, uang yang dibawa pemudik akan menggerakkan ekonomi pedesaan, sektor transportasi dan UMKM
Dari sejumlah catatan yang dirangkum KuansingKita, mudik lebaran di era modern ini kini dianalisis sebagai bagian dari “modernitas cair” (liquid modernity). Dalam kondisi ini tradisi tetap bertahan di tengah lajunya perubahan sosial dan teknologi
“Modernita cair” adalah konsep sosiologi dari Zygmunt Bauman yang menggambarkan masyarakat kontemporer yang terus berubah cepat, tidak stabil dan cair. Ini adalah pergeseran dari struktur kaku menuju kehidupan yang fleksibel, individualis
Itu pula mungkin, hal yang menyebabkan prilaku pemudik dan masyarakat yang menerimanya mulai berubah. Setidaknya perubahan itu terlihat dalam hubungan sosial antara pemudik dan masyarakat yang di perkampungan

Dulu, di Kuantan Singingi, setiap ada warga desa pulang kampung, kaum kerabat berdatangan memberi salam seraya mendengar berbagai kisah di perantauan. Kini, di era “modernitas cair” masyarakat yang terjebak individualitis, sudah tidak peduli
Era “modernitas cair” ini juga berpotensi mengikis berbagai kebiasaan masyarakat di musim lebaran atau bulan puasa. Dulu, kaum kerabat di musim lebaran saling mengunjungi dengan membawa rantang berisi nasi lengkap dengan lauknya
Kini, iring-iringan masyarakat yang membawa rantang tidak pernah terlihat lagi. Ini disebabkan konsep individualis sudah mulai merecoki tradisi silaturahmi masyarakat. Tentu sangat dikhawatirkan jika fenomena ini terus bertumbuh dan berkembang
Di sini, saatnya dituntut kehadiran pemerintah dan lembaga adat agar masyarakat tidak dibiarkan terjebak dalam prilaku masyarakat kontemporer. Masyarakat yang selalu membuat pergeseran dari struktur kaku menuju berbagai bentuk perubahan
Kondisi seperti ini sebenarnya sejak jauh hari sudah diingatkan dalam petuah adat “ Jalan dialiah urang lalu, cupak dipopek rang penggaleh”. Inilah yang harus diwanti-wanti, jangan sampai momen silaturahmi masyarakat direcoki perubahan soisal dan kemajuan teknologi****











