Menyimak Fenomena Mudik Lebaran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi mudik lebaran (Foto internet)

Ilustrasi mudik lebaran (Foto internet)

“Pemerintah setiap tahun selalu membuat persiapan khusus menangani mudik lebaran. Apa itu mudik lebaran dalam fenomena sosial-budaya”

Mudik lebaran bukan sekedar perpindahan fisik manusia dari kota ke desa atau dari perantauan ke kampung halaman. Mudik lebaran adalah fenomena sosial – budaya yang kompleks dengan makna yang sangat luas dan beragam

Jika dicermati lebih dalam, tradisi mudik lebaran ini menggabungkan aspek spritiual, nilai kekeluargaan dan kekerabatan, mobilitas, dinamika ekonomi, sehingga tradisi tahunan ini tanpa disadari ikut mempertegas indentitas masyarakat Indonesia

Dalam konstruksi makna sosial budaya, mudik lebaran menegaskan keterikatan individu dengan akar budayanya dan memperkuat tali stilaturahmi. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap keluarga dan asal-usul, dalam artian kembali ke fitrah

Mudik lebaran juga bagian dari ritual sosial masyarakat muslim. Itulah sebabnya mudik lebaran menjadi ritus tahunan yang dilakukan jutaan umat muslim sehingga mudik lebaran menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan

Namun demikian mudik lebaran sering juga dijadikan panggung status sosial, mudik dijadikan ajang unjuk keberhasilan di perantauan. Prilaku membawa buah tangan yang wah dan berlebih serta membawa kendaraan baru merupakan pamer status sosial

Hal ini memang dapat memotivasi generasi muda di kampung halaman agar kelak bisa lebih sukses lagi. Namun ini sering juga membawa dampak psikologis ataupun tekanan sosial bagi keluarga pemudik lainnya yang belum berhasil

Kendati begitu, mudik lebaran tetap membawa dampak positif terhadap ekonomi seperti memicu perputaran uang dari kota ke desa. Dalam kajian sederhana, uang yang dibawa pemudik akan menggerakkan ekonomi  pedesaan, sektor transportasi dan UMKM

Dari sejumlah catatan yang dirangkum KuansingKita, mudik lebaran di era modern ini kini dianalisis sebagai bagian dari “modernitas cair” (liquid modernity). Dalam kondisi ini tradisi tetap bertahan di tengah lajunya perubahan sosial dan teknologi

“Modernita cair” adalah konsep sosiologi dari Zygmunt Bauman yang menggambarkan masyarakat kontemporer yang terus berubah cepat, tidak stabil dan cair. Ini adalah pergeseran dari struktur kaku menuju kehidupan yang fleksibel, individualis

Itu pula mungkin, hal yang menyebabkan prilaku pemudik dan masyarakat yang menerimanya mulai berubah. Setidaknya perubahan itu terlihat dalam hubungan sosial antara pemudik dan masyarakat yang di perkampungan

Dulu, di Kuantan Singingi, setiap ada warga desa pulang kampung, kaum kerabat berdatangan memberi salam seraya mendengar berbagai kisah di perantauan. Kini, di era “modernitas cair” masyarakat yang terjebak individualitis, sudah tidak peduli

Era “modernitas cair” ini juga berpotensi mengikis berbagai kebiasaan masyarakat di musim lebaran atau bulan puasa. Dulu, kaum kerabat di musim lebaran saling mengunjungi dengan membawa rantang berisi nasi lengkap dengan lauknya

Kini, iring-iringan masyarakat yang membawa rantang tidak pernah terlihat lagi. Ini disebabkan konsep individualis sudah mulai merecoki tradisi silaturahmi masyarakat. Tentu sangat dikhawatirkan jika fenomena ini terus bertumbuh dan berkembang

Di sini, saatnya dituntut kehadiran pemerintah dan lembaga adat agar masyarakat tidak dibiarkan terjebak dalam prilaku masyarakat kontemporer. Masyarakat yang selalu membuat pergeseran dari struktur kaku menuju berbagai bentuk perubahan

Kondisi seperti ini sebenarnya sejak jauh hari sudah diingatkan dalam petuah adat “ Jalan dialiah urang lalu, cupak dipopek rang penggaleh”. Inilah yang harus diwanti-wanti, jangan sampai momen silaturahmi masyarakat direcoki perubahan soisal dan kemajuan teknologi****

Berita Terkait

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum
Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan
Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta
Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:07 WIB

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum

Senin, 30 Maret 2026 - 11:41 WIB

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:28 WIB

Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto Visi.news)

EDITORIAL

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Senin, 30 Mar 2026 - 11:41 WIB

SENI DAN BUDAYA

Mengapresiasi karya Puisi

Jumat, 27 Mar 2026 - 14:19 WIB