TELUKKUANTAN (KuansingKita) – Badminton World Federation (BWF) yakni federasi bulu tangkis dunia kini menerapkan aturan baru untuk pemain yang melakukan servis. Aturan baru ini disebut time clock 25 detik
Time clock 25 detik adalah aturan yang memberikan waktu maksimal 25 detik kepada pihak yang melakukan servis. Setelah reli, pihak yang melakukan servis tidak boleh melebihi waktu 25 detik untuk memulai servis
Penghitungan waktu dimulai sejak wasit memasukkan skor reli sebelumnya. Servis sudah harus dimulai sebelum 25 detik. Aturan ini bertujuan untuk mengurangi unsur subjektivitas dalam menilai penundaan waktu permainan.
Dalam rentang waktu 25 detik, pemain tetap diperkenankan melakukan aktivitas di sisi lapangan seperti mengelap keringat, minum, memperbaiki ikat tali sepatu, hingga menggunakan semprotan tanpa memerlukan izin wasit.

Namun demikian, penerima servis tetap wajib mengikuti tempo waktu yang digunakan pihak yang melakukan servis. Kalau pihak yang melakukan servis hanya menggunakan waktu 10 detik, pihak penerima servis wajib mengikutinya
Penerima servis tidak boleh menggunakan waktu time clock 25 detik melebihi waktu yang digunakan pihak yang melakukan servis. Penerima servis harus sudah siap apabila pihak yang melakukan servis sudah memulai servisnya
Dalam pertandingan yang menerapkan Time Clock 25 detik, permintaan pergantian shuttlecock harus diajukan segera setelah reli berakhir. Waktu pergantian shuttlecock dan memilih shuttlecock masuk dalam waktu 25 detik
Apabila terjadi kondisi khusus seperti pengepelan lapangan yang membutuhkan waktu lebih lama, wasit berwenang menghentikan sementara Time Clock. Sementara untuk pengepelan singkat, penghitungan waktu tetap berjalan.

Seperti dilansir Antaranews, BWF menegaskan dalam penerapan penuh nantinya, wasit memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi atas penundaan yang tidak semestinya, mulai dari peringatan lisan, kartu kuning, hingga kartu merah
Namun, selama masa uji coba, sanksi yang diberlakukan masih sebatas peringatan verbal. Sanksi belum akan memberikan kartu kuning atau kartu merah yang memberikan kemenangan set itu kepada pihak lawan
Masa uji coba aturan ini akan dievaluasi sebelum diputuskan secara permanen dalam pertemuan tahunan BWF, baik melalui Annual General Meeting (AGM) maupun Council Meeting yaitu pertemuan dewan pengatur terpilih dengan masa tugas empat tahun.

“ Jika dinilai efektif, sistem Time Clock dan ketentuan permainan berkelanjutan akan diterapkan secara penuh pada seluruh turnamen sepanjang 2026,” kata Sekjen BWF Thomas Lund.
Sementara itu, pada pertandingan yang belum menggunakan Time Clock, penilaian penundaan permainan tetap mengacu pada ketentuan sebelumnya. Penerima servis harus mengikuti ritme permainan dari pihak yang melakukan servis.
Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mulai menguji coba penerapan aturan baru Time Clock 25 detik dan konsep permainan berkelanjutan (continuous play) dalam sejumlah turnamen BWF World Tour tahun 2026 ini
Bahkan turnamen bulu tangkis seperti Super 500 Indonesia Masters 2026 yang akan digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 20–25 Januari juga akan menerapkan aturan baru BWF yakni Time Clock 25 detik sebagai bentuk sosialisasi
Dalam keterangan resmi PP PBSI, aturan ini dirancang untuk meningkatkan konsistensi penegakan peraturan sekaligus meminimalkan penundaan waktu di antara reli, yang selama ini kerap menjadi sumber perbedaan penilaian wasit.(smh)











