Cinta itu sesuatu yang sakral, biarkan Cinta tumbuh liar apa adanya, jangan diperangkap dalam konsep dan defenisi
Kamis 26 Februari 2026 sekitar pukul 08.30 WIB, ruang seminar proposal UIN Pekanbaru berubah menjadi ruang pembantaian berdarah-darah. Seorang mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Raihan Mufazzar (21), membacok temannya Faradilla Ayu Pramesti (23) menggunakan kapak
Kendati belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait motiv peristiwa ini namun banyak media menulis Raihan nekat melakukan aksinya karena persoalan Cinta yang telah dijajakinya sejak mengikuti program KKN beberapa waktu lalu
Pertistiwa ini sangat mengejutkan. Tapi begitulah, ketika Cinta yang seharusnya bersemedi di ruang sakral dipaksa turun untuk dijadikan objek kajian, Cinta jadi berubah wajah. Ia tidak lagi berupa bilur-bilur yang menggetarkan tapi menjadi konsep dalam banyak tafsir
Apalagi kalau Cinta dibalut dengan kalimat filosofis, dikurung dalam jeruji defenisi lalu dipanggang dalam emosi irasionalitas, Cinta mampu membakar apa saja yang ada di sekelilingnya termasuk merenggut nyawa
Padahal Cinta pada hakikatnya bukan untuk dimengerti melainkan untuk dialami dengan segala luka, keindahan dan kehancurannya. Namun di era modern, Cinta sering dimutilasi menjadi terminologi, memaksanya tunduk pada defenisi
Setidaknya inilah yang dialami pelaku sehingga memilih kapak sebagai bahasa Cinta. Ia sepertinya memaksakan diri menterjemahkan kehangatan Cinta dalam dadanya dengan kalimat majemuk bertingkat

Ia tidak mampu menterjemahkan luka Cinta ke dalam keindahan. Ia memaksakan Cinta sesuai dengan metafora dan preposisi di ruang ekspektasinya. Dalam logikanya, Cinta adalah struktur, relasi, konstruksi, mediasi dan sublimasi
Tapi manusia modern memang begitu. Cinta bukan lagi denyut nadi yang menggigilkan tubuh. Cinta dengan segala defenisinya, layaknya catatan kaki dari sebuah jurnal ilmiah, ia dipaksa menjadi konsep lalu membusuk perlahan dalam segala kelemahannya
Kapak adalah terjemahan dari bahasa Cinta yang disusun dalam konsep dan defenisi yang rumit. Di sini substansi Cinta berubah menjadi bayang-bayang tanda dalam sistem penandaan yang tidak berbelas kasih
Ada tragedi ontologis di sini, Cinta yang kehilangan tubuhnya, dipreteli menjadi wacana. Itulah sebabnya manusia modern tidak mengenal jatuh Cinta. Ia hanya menganalisis peristiwa Cinta sebagai fenomena linguistik
Substansi Cinta manusia modern tak berdaya jauh dari bayang-bayang tanda yang mewujud dalam tafsirnya. Lihat saja pelaku mengemas kapak dari rumahnya dibawa ke ruang sempro. Kapak diayunkan ibarat penyair membacakan sajak-sajak Cinta

Jika merujuk pada teori Stimulus-Respon dalam psikologi, pelaku keliru dalam merepon gejolak Cinta yang dialaminya. Padahal dalam situasi apapun, Cinta harus diterjemahkan sebagai keindahan termasuk luka-luka dalam Cinta
Kini Cinta yang dipaksa meninggalkan ruang sakral akhirnya membusuk dalam aroma pengkhiatan, pengkhiatan terhadap rasa dalam konsep kesedihan. Konsep kesedihan inilah yang direduksi menjadi gejala psikososial
Dalam analisis makna atau analisis hermeneutius, pelaku menemukan simbol kapak sebagai bahasa Cinta. Lalu diwujudkan dalam sebuah prilaku, kapak diayunkan ke kepala teman wanita yang kabarnya pernah dicintainya
Di sinilah ironi mencapai puncak tragedinya, Cinta membusuk bukan karena kebodohan tetapi karena intelektualitas yang kehilangan hati. Kita merasa telah memenangkan wacana padahal kita kehilangan jiwa dan yang tersisa kini hanyalah keputusasaan
Kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan telah diamankan pihak kepolisian. Nanti diyakini akan lahir narasi-narasi baru dalam konsepnya tentang Cinta, narasi yang beraroma penyesalan karena begitulah manusia modern selalu mendefinisikan Cinta***











