Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto Lazada)

Ilustrasi (Foto Lazada)

Cinta itu sesuatu yang sakral, biarkan Cinta tumbuh liar apa adanya, jangan diperangkap dalam konsep dan defenisi

Kamis 26 Februari 2026 sekitar pukul 08.30 WIB, ruang seminar proposal UIN Pekanbaru berubah menjadi ruang pembantaian berdarah-darah. Seorang mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Raihan Mufazzar (21), membacok temannya Faradilla Ayu Pramesti (23) menggunakan kapak

Kendati belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait motiv peristiwa ini namun banyak media menulis Raihan nekat melakukan aksinya karena persoalan Cinta yang telah dijajakinya sejak mengikuti program KKN beberapa waktu lalu

Pertistiwa ini sangat mengejutkan. Tapi begitulah, ketika Cinta yang seharusnya bersemedi di ruang sakral dipaksa turun untuk dijadikan objek kajian, Cinta jadi berubah wajah. Ia tidak lagi berupa bilur-bilur yang menggetarkan tapi menjadi konsep dalam banyak tafsir

Apalagi kalau Cinta dibalut dengan kalimat filosofis, dikurung dalam jeruji defenisi lalu dipanggang dalam  emosi irasionalitas, Cinta mampu membakar apa saja yang ada di sekelilingnya termasuk merenggut nyawa

Padahal Cinta pada hakikatnya bukan untuk dimengerti melainkan untuk dialami dengan segala luka, keindahan dan kehancurannya. Namun di era modern, Cinta sering dimutilasi menjadi terminologi, memaksanya tunduk pada defenisi

Setidaknya inilah yang dialami pelaku sehingga memilih kapak sebagai bahasa Cinta.  Ia sepertinya memaksakan diri menterjemahkan kehangatan Cinta dalam dadanya dengan kalimat majemuk bertingkat

Ia tidak mampu menterjemahkan luka Cinta ke dalam keindahan. Ia memaksakan Cinta sesuai dengan metafora dan preposisi di ruang ekspektasinya. Dalam logikanya, Cinta adalah struktur, relasi, konstruksi, mediasi dan sublimasi

Tapi manusia modern memang begitu. Cinta bukan lagi denyut nadi yang menggigilkan tubuh. Cinta dengan segala defenisinya, layaknya catatan kaki dari sebuah jurnal ilmiah, ia dipaksa menjadi konsep lalu membusuk perlahan dalam segala kelemahannya

Kapak adalah terjemahan dari bahasa Cinta yang disusun dalam konsep dan defenisi yang rumit. Di sini substansi Cinta berubah menjadi bayang-bayang tanda dalam sistem penandaan yang tidak berbelas kasih

Ada tragedi ontologis di sini, Cinta yang kehilangan tubuhnya, dipreteli menjadi wacana. Itulah sebabnya manusia modern tidak mengenal jatuh Cinta. Ia hanya menganalisis peristiwa Cinta sebagai fenomena linguistik

Substansi Cinta manusia modern tak berdaya jauh dari bayang-bayang tanda yang mewujud dalam tafsirnya. Lihat saja pelaku mengemas kapak dari rumahnya dibawa ke ruang sempro. Kapak diayunkan ibarat penyair membacakan sajak-sajak Cinta

Jika merujuk pada teori Stimulus-Respon dalam psikologi, pelaku keliru dalam merepon gejolak Cinta yang dialaminya. Padahal dalam situasi apapun, Cinta harus diterjemahkan sebagai keindahan termasuk luka-luka dalam Cinta

Kini Cinta yang dipaksa meninggalkan ruang sakral akhirnya membusuk dalam aroma pengkhiatan, pengkhiatan terhadap rasa dalam konsep kesedihan. Konsep kesedihan inilah yang direduksi menjadi gejala psikososial

Dalam analisis makna atau analisis hermeneutius, pelaku menemukan simbol kapak sebagai bahasa Cinta. Lalu diwujudkan dalam sebuah prilaku, kapak diayunkan ke kepala teman wanita yang kabarnya pernah dicintainya

Di sinilah ironi mencapai puncak tragedinya, Cinta membusuk bukan karena kebodohan tetapi karena intelektualitas yang kehilangan hati. Kita merasa telah memenangkan wacana padahal kita kehilangan jiwa dan yang tersisa kini hanyalah keputusasaan

Kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan telah diamankan pihak kepolisian. Nanti diyakini akan lahir narasi-narasi baru dalam konsepnya tentang Cinta, narasi yang beraroma penyesalan karena begitulah manusia modern selalu mendefinisikan Cinta***

Berita Terkait

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum
Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan
Menyimak Fenomena Mudik Lebaran
Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:07 WIB

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum

Senin, 30 Maret 2026 - 11:41 WIB

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Sabtu, 21 Maret 2026 - 18:07 WIB

Menyimak Fenomena Mudik Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto Visi.news)

EDITORIAL

Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan

Senin, 30 Mar 2026 - 11:41 WIB