Mengenal Keganasan Buaya Pulau Ramree yang Masuk Guinnes Book of Record

Minggu, 12 September 2021 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Ramree dengan luas 1.350 km2 terletak di sebelah barat Myanmar. Pulau Ramree masuk dalam buku Guinnes Book of Record atas sebuah tragedi dimana manusia dalam jumlah besar dimangsa hewan buas buaya
Pulau Ramree memang dihuni oleh ribuan buaya air asin. Buaya ini hidup di muara sungai dekat dengan laut. Buaya air asin merupakan jenis buaya terbesar di dunia. Panjang tubuh buaya air asin bisa mencapai 7 meter dengan berat hingga 1.000 kilogram.
Buaya air asin sering juga disebut predator tangguh yang mampu bertahan hidup sampai 70 tahun. Di Pulau Ramree, buaya air asin ini tidak saja tunak di air sekitar pulau, tapi kadang juga bermain di hutan-hutan bakau.
Ketika Perang Dunia II, tahun 1945, Pulau Ramree jadi tempat pertarungan antara tentara Inggris dan Jepang. Pemerintah Jepang ingin menguasai wilayah Vietnam untuk dijadikan pos pemantauan bagi pergerakan negara-negara sekutu.
Begitu pula dengan Inggris, disebut dengan ‘Operation Matador’ mereka mau menambah wilayah kekuasaannya sampai ke Asia. Inggris mau menguasai Pulau Ramree dan Pulau Cheduba yang ada di dekatnya untuk dijadikan pangkalan udara.
Pada 19 Februari 1945 pecahlah perang antara Inggris dan Jepang. Inggris unggul dari jumlah persenjataan, membuat tentara Jepang mundur. Sedikitnya 1.000 tentara Jepang dipukul mundur sampai masuk ke dalam hutan bakau di Pulau Ramree.

Dari situlah, tragedi mengerikan dimulai. Salah seorang tim dari pasukan Inggris, Bruce Stanley Wright menjadi saksinya. Dia mengungkapkan dalam buku Wildlife Sketches Near and Far (tahun 1962), terjadi pembantaian manusia oleh buaya
Dalam satu malam, suasana di dalam hutan bakau jadi hujan darah. Tentara Jepang yang tidak mengetahui tentang medannya, jadi sasaran empuk buaya-buaya air asin.
Bruce Stanley Wright menggambarkan, malam itu di tengah hutan bakau dan rawa, tentara-tentara Jepang diserang banyak buaya. Meski memiliki senjata, tidaklah bisa membantu banyak.
Keganasan buaya air asin dengan tubuh yang besar dan buas di tengah hutan bakau Pulau Ramree sungguh seperti monster brutal memangsa manusia tanpa terkalahkan.
Dari 1.000 tentara Jepang yang terdesak di Pulau Ramree hanya sekitar 20 orang yang selamat meski beberapa versi juga menyebutkan 100-an orang selamat.
Kejadian ini pun menjadi perhatian dunia. Peristiwa ini diabadikan sebagai Most Number of Fatalities in a Crocodile Attack dalam Guinnes Book of Record. (dirangkum dari berbagai sumber)

Berita Terkait

Mantan Presiden Amerika, Donald Trump Mengalami Penembakan saat Kampanye di Pennsylvania
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah
Barack Obama: A Legacy of Progress and Change
The Trump Administration’s Legacy in World Politics: An Assessment
China’s Growing Influence in International Politics: Implications for the World Order
Praktik Penghindaran dan Penggelapan Pajak Ikut Dibahas dalam Pertemuan G20
Gara-gara Masakan Kebanyakan Garam, Pria 46 Tahun Bunuh Isteri
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Juli 2024 - 16:52 WIB

Mantan Presiden Amerika, Donald Trump Mengalami Penembakan saat Kampanye di Pennsylvania

Kamis, 30 Maret 2023 - 20:15 WIB

Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:50 WIB

The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah

Rabu, 29 Maret 2023 - 01:48 WIB

Barack Obama: A Legacy of Progress and Change

Selasa, 28 Maret 2023 - 08:24 WIB

The Trump Administration’s Legacy in World Politics: An Assessment

Berita Terbaru