Salam Redaksi – Menyoal Bantuan Perusahaan

Rabu, 15 Maret 2017 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SALAM REDAKSI – Pembaca yang budiman, beberapa hari lalu, Wakil Bupati Kuantan Singingi H.Halim memerintahkan dinas terkait untuk mengembalikan bantuan yang diberikan PT RAPP untuk korban banjir Kuansing.

Wabup Halim menilai bantuan yang diberikan PT RAPP itu tidak sebanding dengan sumber daya alam yang telah dikurasnya di Kuansing. Maklum saja bantuan itu hanya beberapa puluh kardus mie instan untuk hampir 6400 KK korban banjir.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Wabu H.Halim menolak bantuan pihak perusahaan. Pada saat pacu jalur lalu, Wabup Halim juga menolak bantuan sejumlah perusahaan yang memberikan bantuan ala kadarnya.

Penilaiannya tetap saja sama. Pihak perusahaan dinilai telah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari bumi Kuansing. Namun ketika memberikan bantuan justeru diberikan ala kadarnya saja.

Sebut saja perusahaan PT Duta Palma Nusantara, Tri Bakti Sarimas, dan PT RAPP. Ini bukan perusahaan berskala kecil. Belasan ribu bahkan ada yang puluhan ribu hektar tanah Kuansing yang dijadikan lahan bagi perusahaan ini untuk mencetak lembaran dolar.

Sedihnya, apa yang telah diperoleh daerah selama ini justeru tidak sebanding dengan sumber daya alam daerah yang di kurasnya. Dibangunkanlah ruang kelas belajar, dibantulah kelompok tani kecil lalu minta diekspose di media massa. Inilah kerja perusahaan-perusahaan ini.

Dulu, sebelum HTI PT RAPP baru mulai ditanam, bahan baku paberik kertas terbesar di Asia Tenggara itu justeru dikeruk dari hutan Kuansing. Pohon-pohon di hutan Kuansing ditumbangkan, lalu diangkut dengan truk toronton ke paberik mereka di Pelalawan.

Rakyat Kuansing dapat apa ??. Ada yang kita dapatkan kala itu, jalan raya rusak parah karena setiap hari dilewati truk angkutan kayu sarat muatan. Sungai-sungai di hutan mengering. Jika hujan turun langsung banjir bandang karena green belt tidak dihiraukan.

Lalu ketika pacu jalur, dicarilah jalur yang berprestasi, lalu dibantu anatara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Namun dengan syarat harus mencantumkan nama perushaan mereka. Seolah-olah jalur itu benar-benar binaan dan dibiayai mereka.

Tapi ketika masayarakat dilanda banjir, seperti banjir kemarin, perusahaaan itu hanya membantu beberapa puluh kardus mie instan saja. Bahkan ada juga perusahaan yang tidak peduli. Mereka tidak memberikan bantuan sama sekali. Begitulah rendahnya Kuansing di mata mereka.

Kini Wabup Halim mulai bersikeras. Bantuan perusahaan yang dinilai tidak layak atau ala kadarnya saja selalu ditolak. Untuk yang satu ini, kita salut kepada Wabup Halim. Dia benar-benar menjaga marwah negeri Kuansing. Tapi untuk yang lain, nantilah kita ulas lagi.***

Berita Terkait

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta
Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan
APBD-P Kuansing 2025 Tanpa Alokasi TPP. Ini Sangat Keliru
Entitas Pemerintah Tidak Boleh Terjebak dalam Pembiaran Pelanggaran Hukum
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:28 WIB

Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:35 WIB

Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta

Rabu, 8 Oktober 2025 - 15:18 WIB

Polisi dan Pelaku Kejahatan Lingkungan

Berita Terbaru

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

EDITORIAL

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Rabu, 11 Mar 2026 - 00:53 WIB

Deforestasi (Foto Antara)

EDITORIAL

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Senin, 9 Mar 2026 - 20:41 WIB