Harga Satu Kilogram Bawang Merah Sebanding dengan 12,5 Kilogram Karet

Senin, 25 Mei 2020 - 17:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

TELUKKUANTAN (KuansingKita) – Harga komoditas holtikultura di pasar Telukkuantan semakin tidak terkendali. Buktinya harga bawang merah mencapai Rp 50 ribu per kilogram.
Dari informasi yang dirangkum KuansingKita, sebelum memasuki bulan puasa harga bawang merah berkisar Rp 26 ribu per kilogram. Menjelang bulan puasa harga bawang merah naik hingga 55 ribu per kilogram.
Pertengahan bulan puasa harga bawang merah sempat turun hingga Rp 40 ribu per kilogram. Ini terjadi hanya beberapa hari saja. Menjelang lebaran harga bawang merah naik lagi menjadi Rp 50 ribu per kilogram
“ Harga bawang merah satu kilogram Rp 50 ribu,” kata seorang wanita yang membuka usaha rumah makan, Eni Sarona, kepada KuansingKita menjelang lebaran.
Sementara harga karet petani ditingkat pedagang pengumpul anjlok hingga Rp 4 ribu per kilogram. Kondisi ini sudah berlangsung lama. Harga karet Rp 4 ribu per kilogram ini untuk petani yang tidak tergabung dalam koperasi.
“ Sekarang saya berhenti dulu menyadap karet. Harga karet kini jatuh sekali, sekitar Rp 4 ribu per kilogram,” kata seorang petani karet di Desa Pulau Aro
Kalau dibandingkan dengan harga bawang merah, maka satu kilogram bawang merah sebanding dengan 12,5 kilogram karet petani. Ini adalah salah satu bentuk prilaku pasar yang harus jadi perhatian pemerintah.
Bahkan ini sangat bertolak belakang dengan kondisi di “zaman baheula” dulu. Dulu harga satu kilogram karet bisa membeli 2,5 kilogram beras. Bahkan saat krisis 1997 lalu harga karet petani mencapai Rp 24 ribu per kilogram.
Kondisi berbeda justeru terjadi pada harga cabe keriting. Para petani cabe keriting di Kuansing kini menjerit. Betapa tidak, sebelum bulan puasa harga cabe keriting sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Dua hari menjelang bulan puasa harga cabe keriting anjlok.
Seorang petani cabe keriting di kawasan Sinambek Telukkuantan, Mbah Kumis mengaku cabe keriting yang dipanennya menjelang bulan puasa dibeli pedagang pengumpul seharga Rp 17 ribu per kilogram. Sepekan kemudian harganya anjlok lagi menjadi Rp 12 ribu perkliogram.
“ Waktu panennya tepat sekali menjelang bulan puasa. Tapi mau gimana lagi harganya anjlok,” sesal Mbah Kumis
Kini harga cabe keriting petani lebih anjlok lagi. Pedagang pengumpul hanya membeli seharga Rp 7 ribu per kilogram. Sehingga ada diantara petani yang sengaja tidak memanen cabe keritingnya untuk dijual, tapi disedekahkan untuk warga yang membutuhkan.
“ Cabe keriting saya tidak dipanen lagi. Percuma saja dipanen, harganya hanya Rp 7 ribu per kilogram,” kata Yusran seorang petani holtikultura di kawasan Pulau Bungin.
Yusran menyebutkan warga yang butuh cabe keriting diizinkannya untuk mengambil di lahannya. Hanya saja kata Yusran jumlahnya terbatas sekitar setengah kilogram. “ Dari pada saya panen untuk dijual, hanya bikin sakit hati saja, lebih baik disedekahkan,” kata petani cabe dan mentimun ini.(smh)

Berita Terkait

Pemberitaan Terkait Anggota DPRD Kuansing Inisial RD Sudah Sepatutnya Disikapi Badan Kehormatan
Ketua DPD Perindo Kuantan Singingi, Rowandri Tetap Optimis Hadapi Pemilu Mendatang
Konflik dengan Wanasari, Masyarakat Desa Jake Audiensi di Dirjen Perkebunan Jakarta Senin Tadi
TPP Tidak Boleh Diremehkan karena TPP Mendorong Kinerja dan Prilaku Inovatif
Mengapresiasi karya Puisi
PT Agrinas Palma Nusantara Diminta Serahkan 2.339 hektar Lahan kepada Masyarakat Lokal
Kapolres Kuansing Diminta Segera Evaluasi Kapolsek Kuantan Mudik
Jaringan Narkotika di Balik Kasus Mantan Kapolres Bima AKBP Didik Putra Kuncoro Mulai Ditangkapi
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 16:13 WIB

Pemberitaan Terkait Anggota DPRD Kuansing Inisial RD Sudah Sepatutnya Disikapi Badan Kehormatan

Rabu, 22 April 2026 - 18:12 WIB

Ketua DPD Perindo Kuantan Singingi, Rowandri Tetap Optimis Hadapi Pemilu Mendatang

Senin, 13 April 2026 - 18:14 WIB

Konflik dengan Wanasari, Masyarakat Desa Jake Audiensi di Dirjen Perkebunan Jakarta Senin Tadi

Senin, 6 April 2026 - 19:50 WIB

TPP Tidak Boleh Diremehkan karena TPP Mendorong Kinerja dan Prilaku Inovatif

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:19 WIB

Mengapresiasi karya Puisi

Berita Terbaru