Semua Kubu Mengklaim Kuat Tapi Siapa yang Sebenarnya Kuat. Simak Analisanya Disini

Sabtu, 10 Agustus 2024 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Semua kubu bisa saja mengklaim merekalah yang terkuat dan sangat berpeluang meraih suara terbanyak dalam pilkada Kuansing nanti. Tapi untuk membuktikan klaim itu benar atau tidak tentu butuh analisis. Simak analisis KuansingKita untuk pilkada Kuansing 2024”
Sudah merebak informasi, Suhardiman akan mendeklarasikan pasangannya, calon wakil bupati, sebagai calon incumbent dalam pilkada Kuansing 2024.  Deklarasi ini akan digelar di jalur dua Tugu Carano – Bundaran DPRD, sebelum pendaftaran di KPU nanti
Helat deklarasi ini akan ditaja semeriah mungkin yakni menampilkan penyanyi dari grup musik pop rock ternama asal Yogyakarta “Seventeen”. Polesan-polesan seperti ini tentu ingin mengesankan bahwa pasangan incumbent memang di atas dari pasangan lainnya
Langkah yang dilakukan Suhardiman ini sebuah hal yang wajar dalam kontestasi politik elektoral. Setiap momen harus dimanfaatkan agar terkesan unggul. Dan ini sangat dibenarkan dalam rumusan-rumusan marketing politik elektoral seperti pilkada
Teknik ini dalam marketing politik disebut bandwagon effect. Ini mengacu pada psychologi politik pemilih. Kajian-kajian akademik untuk bandwagon effect sudah menyimpulkan bahwa pemilih cenderung memberikan pilihannya kepada calon yang kuat
Tapi apakah benar Suhardiman dan pasangannya adalah calon yang kuat. Pasalnya kubu lainnya juga mengklaim sebagai calon kuat. Namun klaim-klaim ini sebagian besar dalam bentuk pernyataan sehingga pernyataan itu perlu analisis
Misalnya kubu Halim – Komperensi (HK). Pasangan ini berpijak pada hasil pilkada periode lalu. Pasangan Halim – Komperensi berada di urutan kedua dari tiga pasangan calon yang iklut pilkada. Karena itu, pasangan HK ini sangat yakin akan meraih suara terbanyak dalam pilkada nanti
Alasannya sederhana saja. Dalam pilkada lalu, Suhardiman bergabung dengan calon Golkar. Saat itu HK berada di urutan kedua. Kini pasangan Suhardiman dan calon Golkar terpecah, sehingga HK berpeluang menang karena kekuatan Suhardiman dan Golkar sudah terpecah
Sepintas argument seperti ini seakan benar. Tapi perlu difahami bahwa Suhardiman yang bergabung dengan calon Golkar periode lalu, secara kekuatan politik berbeda dengan Suhardiman sebagai calon incumbent. Suhardiman sebagai calon incumbent kini didukung banyak fasilitas
Selain itu, Suhardiman sebagai calon incumbent akan bergerak dalam peta politik yang berbeda dengan peta dalam pilkada periode lalu. Kini sebagai calon incumbent Suhardiman akan bergerak dalam peta politik yang lebih luas, loyalitas pendukung yang tinggi dan kekuatan finansial yang hebat
Maka dari itu, HK sangat tidak tepat jika menjadikan analisa kekuatan politik yang terpecah sebagai argumentasi primer untuk mengklaim peluang meraih suara terbanyak. Argumen itu bisa ditempatkan pada argumentasi sekunder sebagai titik untuk mendorong motivasi pendukung
Kalau HK berpijak pada analisa kekuatan politik yang terpecah sangat diyakini hasilnya akan buruk. Kini HK harus menginventarisir elemen-elemen dari konsep yang diterapkan calon incumbent. Dari situlah HK maupun calon Golkar membangun gerakan
Pasangan Golkar dalam pilkada Kuansing 2024 juga mengklaim calon yang kuat. Golkar punya argumentasi logis yang sepintas bisa diterima. Alasannya sederhana pula. Golkar satu-satunya partai politik, yang punya struktur paling luas dan lebih jelas di Kuansing

 

 

 

Struktur Golkar bukan sekedar tertulis di atas kertas saja. Struktur Golkar by name by address dan memiliki tingkat loyalitas yang tak diragukan lagi. Inilah modal Golkar untuk memenangkan kontestasi politik pilkada Kuansing 2024 ini
Kendati begitu, Golkar perlu pula memahami bahwa konsep gerakan incumbent merambah semua kekuatan-kekuatan politik di Kuansing. Ini bisa dilihat dari hasil pileg lalu. PPP sampai sampai tidak mendapatkan kursi di DPRD Kuansing, bahkan juga untuk DPRD Riau
Ini bisa ditenggarai bahwa konsep gerakan politik Suhardiman telah merambah kekuatan-kekuatan politik di Kuansing termasuk motor penggerak PPP. Bahkan untuk DPRD provinsi, ada rumor bahwa caleg Gerindra tandem dengan caleg PPP untuk DPRD kabupaten
Langkah-langkah seperti ini diyakini akan masuk dalam konsep gerakan incumbent. Ia akan merambah seluruh kekuatan politik di Kuansing. Sebab hasil perolehan suara sangat linear dengan kekuatan politik. Inilah yang harus diantisipasi Golkar melalui konsolidasi berulang-ulang kali
Tapi apakah dengan konsep yang sudah tertata baik, Suhardiman sangat yakin akan memenangkan pilkada. Jawabnya tidak. Suhardiman masih meragukan kekuatannya. Ini bisa dilihat dari pertimbangannya memilih calon wakil bupati
Suhardiman telah memilih pasangannya sebagai calon wakil bupati dengan komposisi yang satu warna dengan pasangan Golkar. Golkar menetapkan Adam Sukarmis berpasangan dengan Sutoyo, warga eks transimgrasi, Singingi Hilir
Nyatanya Suhardiman, berdasarkan informasi yang diterima KuansingKita, akan berpasangan dengan Muhlisin yang juga warga eks transmigrasi. Arinya Suhardiman memainkan komposisi satu warna dengan pasangan yang diusung Golkar.
Pemilihan pasangan ini adalah bentuk kekhawatiran Suhardiman  terhadap kekuatan pasangan Golkar. Dari kekhawatiran itu, Suhardiman ikut memilih pasangannya calon wakil bupati, Mukhlisin dari wilayah eks transmigrasi
Sekalipun pilihan ini telah mengundang pro kontra namun Suhardiman tetap tidak peduli. Dalam deklarasi di jalur dua Tugu Carano – Bundaran DPRD nanti, Suhardiman akan mendeklarasikan pasangan Suhardiman – Mukhlisin untuk pilkada Kuansing 2024
Sangat diyakini deklarasi pasangan Suhardiman – Mukhlisin di jalur dua Tugu Carano – Bundaran DPRD nanti, akan dijejali massa penonton. Tapi apakah massa yang hadir semuanya pendukung pasangan Suhardiman – Mukhlisin, tentu saja tidak
Sekalipun tidak semua yang hadir massa pendukung Suhardiman – Mukhlisin, tapi langkah yang dilakukan Suhardiman ini sangat memenuhi rumus-rumus marketing politik yang disebut bandwagon effect.
Pasangan ini harus terkesan kuat agar dukungan  semakin mengalir. Sebab dalam teori bandwagon effect pemilih cenderung memberikan suaranya kepada calon yang kuat. Dan kesan ini yang tengah dibangun Suhardiman dengan pendukungnya melalui pesta deklarasi nanti. (said mustafa husin)

 

Berita Terkait

Memahami “Bandwagon Effect” dalam Memacu Elektabilitas
Sekedar Membangun Popularitas atau Memang Mengejar Elektabilitas
“ Your Haughty will Destroy Yourself”. Ini yang Harus Dihindari
Belum Ada Satu pun Paslon Pilkada Kuansing 2024 Berada di Posisi Aman
Pilkada Kuansing 2024, Belum Terjadi “Swing Voter” Secara Masiv
Calon Kuat Pilkada Kuansing Pekan Ini dalam Analisis Geografis dan Demografis
Rebutan PKS antara Kubu Suhardiman dan Kubu Adam Sukarmis Semakin Seru dan Menarik
Adam Sukarmis Petarung Berani yang Penuh Spekulasi
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 Oktober 2024 - 20:08 WIB

Memahami “Bandwagon Effect” dalam Memacu Elektabilitas

Selasa, 8 Oktober 2024 - 19:57 WIB

Sekedar Membangun Popularitas atau Memang Mengejar Elektabilitas

Rabu, 2 Oktober 2024 - 16:41 WIB

“ Your Haughty will Destroy Yourself”. Ini yang Harus Dihindari

Sabtu, 21 September 2024 - 11:31 WIB

Belum Ada Satu pun Paslon Pilkada Kuansing 2024 Berada di Posisi Aman

Kamis, 19 September 2024 - 15:55 WIB

Pilkada Kuansing 2024, Belum Terjadi “Swing Voter” Secara Masiv

Berita Terbaru

Ilustrasi (Dok Warta Kota Tribune)

EDITORIAL

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Rabu, 11 Mar 2026 - 00:53 WIB

Deforestasi (Foto Antara)

EDITORIAL

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Senin, 9 Mar 2026 - 20:41 WIB