TELUKKUANTAN (KuansingKita) – Pihak kepolisian terus berupaya mengungkap kasus kematian seekor gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) di areal PT RAPP Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Sampai kini, sebanyak 33 orang saksi telah diminta keterangannya.
Mengutip berbagai sumber, gajah ini mati dibunuh. Dokter hewan BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, gajah tersebut ditembak pada bagian dahi.
Ia mengatakan proyektil peluru ditemukan masih bersarang di tengkorak dan posisi tengkorak masih menyatu dengan leher. Beberapa bagian depan kepala gajah termasuk gading hilang karena dipotong menggunakan senjata tajam
Tak bisa disangkal. Ini merupakan bukti bahwa BKSDA Riau gagal dalam membangun koeksistensi manusia dan satwa seperti gajah. Akibatnya gajah dibunuh untuk komoditas begitu juga sebaliknya gajah sering merusak perkebunan warga
Koeksistensi manusia–satwa (human–wildlife coexistence) adalah kondisi ketika manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam satu lanskap. Manusia dan satwa hidup tanpa saling mengancam keberlangsungan hidup satu sama lain.

Konsep koeksistensi ini menekankan salah satunya pada penggunaan ruang yang berbagi antara manusia dan satwa. Sementara ruang jelajah gajah di Taman Nasional Teso Nilo semakin menyempit karena deforestasi dalam bentuk penebangan liar
Gajah yang mati di areal konsesi PT RAPP adalah gajah dari Taman Nasional Teso Nilo. Kawasan Teso Nilo seluas 83 ribu hektar lebih itu kini akibat penebangan liar tutupan hutan yang bersisa hanya 12 ribu hektar saja. Di ruang sempit inilah gajah dipaksa bertahan hidup
Tentu saja, gajah yang biasa hidup dalam ruang jelajah yang luas akhirnya berkeliaran di perkebunan warga atau juga konsesi korporasi seperti konsesi PT RAPP. Akibatnya hewan yang kehilangan habitat ini dimusuhi lalu diserang dan dibunuh
Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea. Gajah merupakan herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan yang dapat menghabiskan 16 jam per hari untuk mengumpulkan daun, umbi, akar dan bambu untuk makanannya.
Kini, sangat dikhawatirkan spesies ini akan punah karena kehilangan habitat. Namun ancaman yang paling serius dari keberlangsungan hidup gajah atau menurunnya populasi gajah adalah perburuan untuk mendapatkan gading gajah
Gading gajah banyak diperjualbelikan secara illegal akibat tingginya permintaan produk gading di pasar gelap internasional. Gajah menjadi sasaran para pemburu untuk diambil gadingnya dan dijual. Inilah yang menyebabkan populasi gajah terus menurun dan terancam punah.

Semua ini terjadi karena gagalnya BKSDA dalam membangun koeksistensi manusia – satwa. BKSDA terkesan membiarkan manusia mendominasi atau mengeksploitasi satwa, merusak dan menghilangkan habitatnya. tanpa melakukan tindakan tegas, cepat dan terarah
Kenapa koeksistensi manusia – satwa itu menjadi penting salah satunya untuk mencegah konflik manusia dan satwa. Koeksistensi menekan tindakan destruktif serendah mungkin seperti gajah tidak lagi merusak ladang warga dan manusia tidak membunuh gajah
Ini dilakukan untuk melindungi keanekargaman hayati. Sebab jika bumi ini kehilangan satu spesies saja baik flora maupun fauna maka akan memicu ketidakseimbangan ekosistem. Apalagi stabilitas hidrologi sangat dipengaruhi ekosistem dari satwa yang ada di dalamnya
Kondisi ini sangat miris ketika mencermati rencana strategis BKSDA Riau. Melalui web resmi BKSDA Riau disebutkan, salah satu rencana strategis BKSDA Riau adalah melestarikan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta keberadaan SDA sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan
Namun kenyataannya semua itu hanya dalam rumusan saja. Habitat gajah dirusak dibiarkan, ruang jelajah gajah menyempit karena penebangan liar dibiarkan. Mungkin juga kematian gajah ini mulanya akan dibiarkan tapi syukur polisi sudah bekerja keras untuk mengungkap kasus ini (smh)











