Membaca Retorika Suhardiman Lewat Logika Sophisme

Senin, 3 Oktober 2022 - 08:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis Said Mustafa Husin

Pemred KuansingKita

Dalam dunia filsafat dikenal kaum sophis atau generasi penutup Pra-Socrates. Kaum Sophis sangat tersohor ahli retorika dan ahli debat.
Metoda berpikir kaum sophis ini yang kemudian dikembangkan menjadi sains modern seperti thesis, antithesis ataupun konklusi yang berangkat dari beberapa premis
Nah, beberapa hari lalu, Kuansing dihebohkan oleh deadlock pembahasan APBD Perubahan. Mantan Wakil Bupati Kuantan Singingi, H Zulkifli melontarkan kritikan tajam
Menanggapi kritikan Zulkifli ini, Plt Bupati Suhardiman Amby balik menyerang. Ia bermaksud menyerang Zulkifli lewat retorika yang dibangun
Namun setelah dianalisa dan diamati secara cermat, retorika yang dibangun Suhardiman Amby, tanpa disadarinya justeru memberikan pembelaan kepada Zulkifli

Begini, dalam menanggapi kritikan Zulkifli di media massa, Suhardiman membangun retorika dengan dua narasi. Ia sepertinya bermaksud menyerang balik
Narasi pertama, menepuk air di dulang. Semua yang dibangun pada masanya bermasalah hukum. Narasi kedua Zulkifli membocorkan rahasia pemerintah kepada pihak lain (APH)
Dari dua premis ini ditemukan konklusi atau kesimpulan yang memberikan pembelaan kepada Zulkifli bahwa Zulkifli tidak terlibat dalam pembangunan yang bermasalah hukum.
Terlepas benar atau tidak pembangunan itu bermasalah hukum atau Zulkifli membocorkan rahasia, kesimpulannya justeru memberikan pembelaan kepada Zulkifli bukan menyerang Zulkifli

Kalau Zulkifli terlibat dalam pembangunan bermasalah hukum, logikanya tentu dia tidak akan membocorkan rahasia kepada pihak lain atau APH
Seharusnya, dalam retorika ini Suhardiman cukup membangun satu narasi. Apakah menepuk air di dulang karena pembangunan bermasalah hukum atau membocorkan rahasia
Lantaran retorika dibangun dengan dua narasi kontradiktif maka lahir narasi baru yang disebut konklusi atau kesimpulan. Nyatanya kesimpulan itu berbeda dari maksud semula.
Logikanya, tidak mungkin Zulkifli akan membocorkan rahasia jika dia memang terlibat. Selain itu, sangat tidak boleh secara hukum Zulkifli diam jika dia tahu pembangunan itu bermasalah
Begitulah retorika yang dibangun Suhardiman ketika diurai lewat logika Sophisme yang kini berkembang menjadi sains modern berupa thesis, anti thesis serta konklusi yang dihasilkan beberapa premis.*****

Berita Terkait

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum
Isu Seputar Wabup Kuansing dan Sengketa Pemberitaan
Menyimak Fenomena Mudik Lebaran
Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital
Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan
Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral
Sampah dan Sumpah Serapah
Ketika Kapak menjadi Bahasa Cinta
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:07 WIB

Potongan Harga TBS Rp 20 per Kilo Gram ala Suhardiman, Bisakah Ini Dibenarkan Hukum

Sabtu, 21 Maret 2026 - 18:07 WIB

Menyimak Fenomena Mudik Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:53 WIB

Pers di Tengah Tantangan Disrupsi Digital

Senin, 9 Maret 2026 - 20:41 WIB

Kenapa Tidak Semuanya Dikembalikan Menjadi Hutan

Minggu, 8 Maret 2026 - 22:28 WIB

Tragedi Kematian dalam Aktivitas PETI, Polisi Harus Punya Tanggung Jawab Moral

Berita Terbaru