Sekedar Membangun Popularitas atau Memang Mengejar Elektabilitas

Selasa, 8 Oktober 2024 - 19:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemred KuansingKita

Pemred KuansingKita
“ Tiga pasangan calon pilkada Kuansing 2024 benar-benar tak meluangkan waktu untuk berleha-leha. Ketiga pasangan calon ini, setiap hari turun menemui masyarakat. Namun gerakan mereka masih dipertanyakan, apakah untuk membangun popularitas atau mengejar elektabilitas”
Hari ini, Selasa 8 Oktober, pasangan nomor urut 1 SDM, turun menemui masyarakat di kawasan pemukiman F7, Kecamatan Singingi, pasangan nomor urut 2 AYO juga turun menemui masyarakat di Kecamatan Singingi Hilir, sedangkan pasangan nomor urut 3 HS turun menemui masyarakat Lubukjambi
Turun ke lapangan atau ke kantong-kantong suara tentu sangat baik untuk sebuah pergerakan. Namun perlu dipertanyakan apakah mereka turun menemui masyarakat dalam kepentingan membangun popularitas atau memang untuk mengejar elektabilitas. Ini dua hal yang sama di satu sisi tapi jauh berbeda di banyak sisi
Kalaulah turun ke lapangan hanya sebatas ingin membangun popularitas, tentulah gerakan ini sangat merugikan. Pasalnya rentang waktu kampanye sangat sempit hanya 60 hari. Sementara ketiga calon bupati yang menjadi kontestan pilkada Kuansing 2024 sudah memiliki popularitas yang tinggi
Misalnya calon bupati nomor urut 1 Suhardiman Amby. Beliau adalah Bupati Kuantan Singingi yang sudah pasti dikenal oleh masyarakat Kuantan Singingi. Begitu juga calon bupati nomor urut 2, Adam Sukarmis, beliau mantan Ketua DPRD Kuansing yang pasti juga dikenal masyarakat Kuansing
Calon bupati nomor urut 3, H. Halim adalah mantan Wakil Bupati Kuantan Singingi. Bahkan dalam pilkada periode lalu, H. Halim juga ikut mencalonkan diri sehingga sudah pasti memiliki popularitas tinggi. Masyarakat Kuansing tentu sudah sangat mengenalnya, sehinga tak ada lagi popularitas yang perlu dibangun
Dalam rentang waktu yang sempit ini gerakan yang baik adalah gerakan meningkatkan elektabilitas, hanya ini cara untuk unggul dalam kontestasi. Seperti dalam ulasan KuansingKita beberapa pekan lampau, pasangan calon turun menemui massa harus dalam konteks konsolidasi bukan melakukan perekrutan
Jika pasangan calon turun menemui massa untuk melakukan perekrutan, hasilnya dipastikan tidak akan baik. Karena itu sebelum pasangan calon turun, koordinatior tim pemenangan untuk tingkat paling bawah seperti kordes ataupun kordus harus sudah bekerja lebih dulu melakukan perekrutan
Nanti, pasangan calon hadir melakukan konsolidasi dalam pertemuan terbatas misalnya, ataupun dalam bentuk pertemuan lainnya. Disinilah gagasan dan janji-janji politik disampaikan, disinilah isu disebarkan untuk negative campaign, disinilah tempatnya untuk meyakinkan para pendukung
Gerakan seperti ini bagian dari upaya membangun elektabilitas. Sebab gerakan ini akan mentransformasikan hati dan pikiran pendukung menjadi suara yang akan dihitung nanti. Jika gerakan ini masiv tentu perolehan suara akan lebih tinggi. Jika kondisi ini terjadi di banyak titik maka dipastikan akan unggul dalam perolehan suara
Langkah-langkah ini tidak terlepas dari metode marketing politik. Marketing politik adalah seperangkat metode yang dapat memfasilitasi tim pemenangan pasangan calon dalam memasarkan inisiatif politik, gagasan politik, isu politik, karakteristik dan visi misi pasangan calon kepada masyarakat. Karena itu metode marketing politik tidak boleh abai dengan political branding
Political Branding adalah sebuah strategi dalam marketing politik untuk mempromosikan pasangan calon melalui pencitraan atau image building. Karena itu poltical branding disusun berdasarkan kajian dari penelitian yang menganalisa lingkungan sehingga pencitraan yang dibangun tidak berseberangan dengan karakteristik lingkungan
Jika pencitraan yang dibangun pasangan calon sesuai dengan karakteristik lingkungan maka sangat diyakini pasangan calon akan mudah mendapatkan dukungan. Begitu sebaliknya, jika pencitraan yang dibangun bertolak belakang dengan karakteristik lingkungan maka pasangan calon pasti akan ditolak
Karena itu, hati-hati memainkan isu politik, hati-hati dengan janji politik, hati-hati membangun  pencitraan. Sebab jika pencitraan tidak sesuai dengan karakteristik lingkungan dipastikan pasangan calon akan ditolak. Lain wilayah lain karakternya, itulah kata kunci membangun pencitraan (said mustafa husin)
FOTO Ilustrasi

Berita Terkait

Memahami “Bandwagon Effect” dalam Memacu Elektabilitas
“ Your Haughty will Destroy Yourself”. Ini yang Harus Dihindari
Belum Ada Satu pun Paslon Pilkada Kuansing 2024 Berada di Posisi Aman
Pilkada Kuansing 2024, Belum Terjadi “Swing Voter” Secara Masiv
Calon Kuat Pilkada Kuansing Pekan Ini dalam Analisis Geografis dan Demografis
Semua Kubu Mengklaim Kuat Tapi Siapa yang Sebenarnya Kuat. Simak Analisanya Disini
Rebutan PKS antara Kubu Suhardiman dan Kubu Adam Sukarmis Semakin Seru dan Menarik
Adam Sukarmis Petarung Berani yang Penuh Spekulasi
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 Oktober 2024 - 20:08 WIB

Memahami “Bandwagon Effect” dalam Memacu Elektabilitas

Selasa, 8 Oktober 2024 - 19:57 WIB

Sekedar Membangun Popularitas atau Memang Mengejar Elektabilitas

Rabu, 2 Oktober 2024 - 16:41 WIB

“ Your Haughty will Destroy Yourself”. Ini yang Harus Dihindari

Sabtu, 21 September 2024 - 11:31 WIB

Belum Ada Satu pun Paslon Pilkada Kuansing 2024 Berada di Posisi Aman

Kamis, 19 September 2024 - 15:55 WIB

Pilkada Kuansing 2024, Belum Terjadi “Swing Voter” Secara Masiv

Berita Terbaru