Karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan secara imajinatif, disusun dengan mengutamakan keindahan kata-kata, serta terikat oleh irama, ritma, dan bait, itulah yang disebut puisi.
Lazimnya, puisi menggunakan bahasa yang padat, konotatif, dan kaya akan makna, seringkali menonjolkan kekuatan rima dan irama untuk menciptakan kesan estetika serta emosional
Berikut adalah kumpulan puisi karya Said Mustafa Husin (Pemimpin Redaksi KuansingKita) yang selalu berupaya mengedepankan keindahan kata namun mampu menggugah perasaan secara imajinatif
AKU BUKAN LELAKI PELAMUN BAYANG
Tak perlu kau gumamkan lagi igau dan segala racau, kalau semua itu hanya rahasia sunyi yang dimengerti perasaan
Tak perlu kau kisahkan lagi cerita usang tentang wajah-wajah yang tak berjejak dalam kenangan
Sebab aku bukan lelaki pelamun bayang, aku bukan semisal ranting lapuk yang merindukan birahi tanah
Aku lelaki penuh jejak badai dalam diri, lelaki yang terbiasa menunggangi asin laut di tengah gulungan ombak.
Untuk apa kau harus menunggu saat yang paling pucuk kalau hanya sekedar berharap gerimis menenggelamkan pulau-pulau
Sudah kukisahkan, aku adalah duri, menusuk akar sampai ke pucuk batang dari punggung daun sampai ke urat tanah
Aku lelaki tubuh hujan yang selalu menghapus jejak di setiap perjalanan. Aku bukan lelaki pelamun bayang
KOTO TALUK 2021
RESAH AIR KE MUARA
Sampai menjelang subuh masih kuuntai resah air ke muara dalam sajakku
Berharap kelak kau dapat memaknai pekat tebing yang rapuh tergerus zaman
Memaknai lekuk palung dan deras arus yang terhempas keangkuhan batu-batu
Bila kelak kau kecewa ketika menemukanku sebagai lelaki tanpa mata hati
Bijaklah memaknainya, sesungguhnya itu hanya tubuh yang mewujud liar di dalam sajak-sajakku
Tubuh yang lahir dari rahim sungai dan tumbuh dalam patahan cuaca
Tubuh yang berabad-abad mahir memetik mata air dan membingkai air mata
Kini untukmu, kuuntai resah air ke muara tentang gamang buih yang terpindai di antara ruap lubuk dan senyap beting
Kini untukmu, kuejakan resah air ke muara tentang bayang musim tercabik kuyup dalam pusaran arus yang terpilin akar matahari
Bila kelak kau tak mampu lagi memaknai resah air ke muara
Kembalilah ke muasal kata yang tersembunyi dalam debar jantungmu
Aku di sana selamanya, membenamkan jejak bersama bening sajak-sajakku
KOTO TALUK APRIL 2022

BENGKALAI RINDU
Jalan setapak, pematang sawah, gemericik air, suara cericit burung, desir dedaunan ditiup angin adalah bengkalai rindu dari nyanyi sunyi memanggil pulang
Di kota yang sesak perkabungan, pengembaraan kembali ke dalam diri karena hidup bukanlah sebatas merapal jarak atau sekedar memendam buncah jantung
Haruskah aku membenam ingatan, melenyapkan kenang tentang jalan setapak, tentang pematang sawah, tentang gemerik air. suara cericit burung serta desir daun ditiup angin
Luka yang menjadi sakit telah kunikmati, kini biarlah bengkalai rindu seperti bunga- bunga kapas merekah dan berterbangan dalam tidurku, seperti nyanyi sunyi memanggil pulang
KOTO TALUK 2023
KEPADAMU
Kepadamu, perempuan yang bersetia menggenggam fajar, hidup bukanlah sekedar warna-warni, biarkan musim meluruhkan pelangi
Kau, perempuan yang terbiasa mengipang rambut dengan tali-tali embun, menyusuri subuh yang gigil untuk menemukan rahasia angan-angan
Di Kota ini, betapa debar tak pernah bersekutu dengan jantungmu, memakai gaun tak bertepi, tanpa cemas kau berjalan menuju pagi.
Tapi di sana, dekat Semenanjung Krimea, kota-kota porakporanda bahkan ribuan nafas pun membeku. Peluru berseliweran jatuh seperti tangkai-tangkai gerimis
Orang-orang dengan mata yang basah meninggalkan kampung halaman. Berjalan hingga telapak pecah berdarah
Kepadamu, perempuan yang bersetia menggenggam fajar, perempuan yang mengipang rambut dengan tali-tali embun
Di sini, nafasmu masih seharum bunga. Sembunyikanlah air mata agar kau bisa menemukan rahasia angan-angan
KOTO TALUK APRIL 2022
KETIKA KATA KEHILANGAN MAKNA
Ketika semua kata kehilangan makna tak ada lagi takwil yang bisa dipadankan pada setiap larik sajak yang kuyup dalam coretan
Pernah kutulis tentang cuaca yang tengah mengerami musim ketika tali-tali waktu berpintal pada gigir zaman
Pernah juga kutulis tentang maut yang menunggu di tubir batuan cadas, meregang diantara akar-akar pohonan lapuk
Semuanya berubah takwil ketika kata kehilangan makna, tak ada takwil yang bisa dipadankan pada setiap larik sajakku
Ketika kata kehilangan makna, bulan penuh di langit malam berubah menjadi kutukan yang rebah di rumpun mawar
KOTO TALUK 2022








