Mengapresiasi karya Puisi

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan secara imajinatif, disusun dengan mengutamakan keindahan kata-kata, serta terikat oleh irama, ritma, dan bait, itulah yang disebut puisi.

Lazimnya, puisi menggunakan bahasa yang padat, konotatif, dan kaya akan makna, seringkali menonjolkan kekuatan rima dan irama untuk menciptakan kesan estetika serta emosional

Berikut adalah kumpulan puisi karya Said Mustafa Husin (Pemimpin Redaksi KuansingKita) yang selalu berupaya mengedepankan keindahan kata namun mampu menggugah perasaan secara imajinatif

AKU BUKAN LELAKI PELAMUN BAYANG

Tak perlu kau gumamkan lagi igau dan segala racau, kalau semua itu hanya rahasia sunyi yang dimengerti perasaan

Tak perlu kau kisahkan lagi cerita usang tentang wajah-wajah yang tak berjejak dalam kenangan

Sebab aku bukan lelaki pelamun bayang, aku bukan semisal ranting lapuk yang merindukan birahi tanah

Aku lelaki penuh jejak badai dalam diri, lelaki yang terbiasa menunggangi asin laut di tengah gulungan ombak.

Untuk apa kau harus menunggu saat yang paling pucuk kalau hanya sekedar berharap gerimis menenggelamkan pulau-pulau

Sudah kukisahkan, aku adalah duri, menusuk akar sampai ke pucuk batang dari punggung daun sampai ke urat tanah

Aku lelaki tubuh hujan yang selalu menghapus jejak di setiap perjalanan. Aku bukan lelaki pelamun bayang

KOTO TALUK 2021

RESAH AIR KE MUARA

Sampai menjelang subuh masih kuuntai resah air ke muara dalam sajakku

Berharap kelak kau dapat memaknai pekat tebing yang rapuh tergerus zaman

Memaknai lekuk palung dan deras arus yang terhempas keangkuhan batu-batu

Bila kelak kau kecewa ketika menemukanku sebagai lelaki tanpa mata hati

Bijaklah memaknainya, sesungguhnya itu hanya tubuh yang mewujud liar di dalam sajak-sajakku

Tubuh yang lahir dari rahim sungai dan tumbuh dalam patahan cuaca

Tubuh yang berabad-abad mahir memetik mata air dan membingkai air mata

Kini untukmu, kuuntai resah air ke muara tentang gamang buih yang terpindai di antara ruap lubuk dan senyap beting

Kini untukmu, kuejakan resah air ke muara tentang bayang musim tercabik kuyup dalam pusaran arus yang terpilin akar matahari

Bila kelak kau tak mampu lagi memaknai resah air ke muara

Kembalilah ke muasal kata yang tersembunyi dalam debar jantungmu

Aku di sana selamanya, membenamkan jejak bersama bening sajak-sajakku

KOTO TALUK APRIL 2022

BENGKALAI RINDU

Jalan setapak, pematang sawah, gemericik air, suara cericit burung, desir dedaunan ditiup angin adalah bengkalai rindu dari nyanyi sunyi memanggil pulang

Di kota yang sesak perkabungan, pengembaraan kembali ke dalam diri karena hidup bukanlah sebatas merapal jarak atau sekedar memendam buncah jantung

Haruskah aku membenam ingatan, melenyapkan kenang tentang jalan setapak, tentang pematang sawah, tentang gemerik air. suara cericit burung serta desir daun ditiup angin

Luka yang menjadi sakit telah kunikmati, kini biarlah bengkalai rindu seperti bunga- bunga kapas merekah dan berterbangan dalam tidurku, seperti nyanyi sunyi memanggil pulang

KOTO TALUK 2023

KEPADAMU

Kepadamu, perempuan yang bersetia menggenggam fajar, hidup bukanlah sekedar warna-warni, biarkan musim meluruhkan pelangi

Kau, perempuan yang terbiasa mengipang rambut dengan tali-tali embun, menyusuri subuh yang gigil untuk menemukan rahasia angan-angan

Di Kota ini, betapa debar tak pernah bersekutu dengan jantungmu, memakai gaun tak bertepi, tanpa cemas kau berjalan menuju pagi.

Tapi di sana, dekat Semenanjung Krimea, kota-kota porakporanda bahkan ribuan nafas pun membeku. Peluru berseliweran jatuh seperti tangkai-tangkai gerimis

Orang-orang dengan mata yang basah meninggalkan kampung halaman. Berjalan hingga telapak pecah berdarah

Kepadamu, perempuan yang bersetia menggenggam fajar, perempuan yang mengipang rambut dengan tali-tali embun

Di sini, nafasmu masih seharum bunga. Sembunyikanlah air mata agar kau bisa menemukan rahasia angan-angan

KOTO TALUK APRIL 2022

KETIKA KATA KEHILANGAN MAKNA

Ketika semua kata kehilangan makna tak ada lagi takwil yang bisa dipadankan pada setiap larik sajak yang kuyup dalam coretan

Pernah kutulis tentang cuaca yang tengah mengerami musim ketika tali-tali waktu berpintal pada gigir zaman

Pernah juga kutulis tentang maut yang menunggu di tubir batuan cadas, meregang diantara akar-akar pohonan lapuk

Semuanya berubah takwil ketika kata kehilangan makna, tak ada takwil yang bisa dipadankan pada setiap larik sajakku

Ketika kata kehilangan makna, bulan penuh di langit malam berubah menjadi kutukan yang rebah di rumpun mawar

KOTO TALUK 2022

Berita Terkait

Jalur Pangeran Hilir Rantau Kuantan dari Teluk Pauh Cerenti Juara Pacu Jalur Batang Peranap
Kuansing dan Inhu Masing-masing Menyisakan 3 Jalur Pada Hari Terakhir Pacu Jalur Batang Peranap
Pacu Jalur Tidak Masuk Dalam 100 Wonderful Event di Indonesia
Ngiang Kuantan dari Gunung Toar Sabet Mahkota Juara Lubuak Sobae
KPS Cerenti Optimis Eksavasi Situs Bukit Candi Berhasil
Balai Arkeologi Medan Eksavasi Situs Purbakala Bukit Candi di Pulau Jambu, Cerenti
Menelisik Perjalanan Busana Kuansing
Idrus Tintin Seniman Besar Riau Berdarah Kuansing
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:19 WIB

Mengapresiasi karya Puisi

Minggu, 23 Juni 2019 - 21:52 WIB

Jalur Pangeran Hilir Rantau Kuantan dari Teluk Pauh Cerenti Juara Pacu Jalur Batang Peranap

Minggu, 23 Juni 2019 - 15:45 WIB

Kuansing dan Inhu Masing-masing Menyisakan 3 Jalur Pada Hari Terakhir Pacu Jalur Batang Peranap

Senin, 18 Februari 2019 - 19:20 WIB

Pacu Jalur Tidak Masuk Dalam 100 Wonderful Event di Indonesia

Sabtu, 22 Juli 2017 - 19:06 WIB

Ngiang Kuantan dari Gunung Toar Sabet Mahkota Juara Lubuak Sobae

Berita Terbaru

SENI DAN BUDAYA

Mengapresiasi karya Puisi

Jumat, 27 Mar 2026 - 14:19 WIB

Ilustrasi mudik lebaran (Foto internet)

EDITORIAL

Menyimak Fenomena Mudik Lebaran

Sabtu, 21 Mar 2026 - 18:07 WIB